Tidak banyak yang tahu dan mengenal apa itu teknologi AI. cheap dapoxetine online,order dapoxetine Namun, mau tidak mau, teknologi ini mulai mengambil peran manusia.

—————————

SEBUAH kamera di hadapkan pada objek. Dalam waktu sepersekian detik, benda itu telah dikenali dengan sempurna sebagai bak sampah. Tidak hanya dikenali tetapi tinggi, lebar, hingga warnanya pun terindenfikasi dengan baik.

Kamera kembali diarahkan ke sudut yang lain. Di arah yang lain kamera itu berhasil mengidentifikasi citra atau gambar yang ditangkapnya sebagai tubuh manusia.

“Inilah AI,” kata Lalu Erfandi Maulana Yusnu.

Pria yang gemar memanah itu mengaku mendalami dunia AI sejak 2-3 tahun terakhir ini. Sebelumnya Fandi tak pernah menunjukan dirinya gemar pada dunia AI. Sampai akhirnya di laboratorium ITEC tempat ia banyak meneliti dan berdiskusi, ia mulai menampakan bakatnya.

Tapi tunggu dulu. Apa itu AI?

AI atau Artificial Intelligence adalah kecerdasan buatan. Lebih ekstrem lagi orang menyebutnya sebagai otak buatan. Loh memangnya otak bisa dibuat? Jawabannya bisa. AI inilah buktinya. AI bekerja berdasarkan prinsip-prinsip kerja otak manusia.

“Saat manusia lahir pertama kalinya di dunia di dalam otaknya belum bisa mengenal benda apapun,” kata Fandi memulai cerita di Laboratoriumnya yang terletak di jalan HOS Cokroaminoto, Karang Baru, Selaparang, Mataram.

Otak manusia persis seperti disk yang masih baru. Lalu dengan menggunakan enam indra, manusia bisa mengisi data ke dalam otaknya kemudian disimpan untuk waktu yang lama. Ada indra pendengar dengan telinga, pengelihatan dengan mata, pengendus dengan hidung, peraba dengan kulit, pengecap dengan lidah, dan perasa dengan hati.

“Prinsip kerja AI pun sama persis dengan otak manusia,” ulasnya.

Mula-mula AI hanya sebuah disk kosong. Kemudian diisi dengan data. Semakin banyak data yang dimasukan ke dalam AI semakin banyak ia mengenali benda yang bisa dikenali.

“Karena itu ada idiom yang mengatakan tidak ada AI tanpa data,” terangnya.

Fandi lantas mengatakan teknologi yang baru saja ia tunjukan dengan laptop dan kamera sebagai indera sistem AI yang dipunyanya, memang penerapan yang paling sederhana untuk teknologi AI.

Di negara luar dan maju, AI bahkan sudah berupa mikrochip yang ditanam di dalam ‘otak-otak’ robot yang diciptakan raksasa teknologi. Robot-robot itu bisa belajar dari lingkungannya. Dengan melihat dan mendengar semua pengalaman di lingkungannya. Sebagai data diri untuk menjalani hari-harinya.

“Jangan bandingkan pesatnya pemanfaatan AI di sini dengan di negara maju tentu kalah sangat jauh, tetapi setidaknya kita sudah memulainya,” tegas Fandi.

Robot-robot pembantu yang diciptakan di Jepang bahkan AI-nya sudah bisa menangkap perintah suara. Selain itu meniru, contoh yang ditunjukan bosnya. Bahkan robot-robot itu bisa jadi lebih cerdas dari manusia karena menguasai banyak bahasa dan mengingat banyak hal lebih lama.

“Robotnya bisa membuat kopi, mencuci, merapikan kamar, dan banyak lagi yang lainnya, semua bermula dari AI,” ulasnya.

Bisa dibayangkan jika pengembangan teknologi AI ini dalam satu-dua dasawarsa ke depan. Fandi mengatakan, jika AI semakin disempurnakan di dalam otak-otak robot, tenaga manusia berpotensi sedikit demi sedikit disingkirkan.

“Karena AI bisa dirancang profesional di dalam otak-otak robot, mereka akan bekerja tanpa mengenal kata malas dan lelah. Kecuali habis baterainya. Berbeda dengan manusia yang bisa kedua-duanya, termasuk berkhianat pada majikannya,” terangnya.

Kehadiran AI memang bisa jadi ancaman serius bagi daerah atau negara yang masih mengandalkan tenaga kasar manusia. Tetapi kabar baik bagi sektor usaha atau pelayanan yang profesional. Para pemimpin usaha bisa saja akhirnya memberhentikan karyawan-karyawannya yang malas dan kerap kedapatan tak profesional. Lalu menggantinya dengan robot-robot yang tak mengenal istilah itu.

“Disadari atau tidak teknologi AI ini sebenarnya sudah lama masuk di daerah ini,” jelasnya.

Memang secara fisik yang berbentuk robot sepertinya belum ada. Tetapi dari segi otak atau sistem sebenarnya sudah mulai banyak digunakan. Fandi mencontohkan pada sistem verifikasi data di perbankan.

“Dulu bank mau kasih pinjaman yang melakukan verifikasi itu manusia. Mulai dari tenaga surveyor hingga validasi berkas-berkas administrasinya,” terangnya.

Tapi AI diam-diam mulai masuk. Lalu mengambil alih sedikit demi sedikit peran manusia. Untuk tenaga surveyor mungkin masih menggunakan jasa manusia. Tetapi saat sudah bicara data-data diri orang, bank sudah terikat pada sistem terintegrasi. Di mana mereka harus menggunakan KTP elektronik, hingga rekam jejak perbankannya yang sudah terekam dalam server bersama yang terintegrasi.

“Jadi kalau memang ia cacat dan tak layak secara administrasi, sistem AI pasti akan menolak usulannya secara administratif. Berbeda saat prosesnya dilakukan secara manual oleh tangan manusia,” ulasnya.

Di satu sisi ini hadirnya AI memang bagus untuk meningkatkan performa kerja perusahaan. Tapi di sisi lain AI telah menghilangkan sektor peluang kerja yang sebenarnya dulu banyak menyerap banyak tenaga kerja. AI telah menjadi ancaman serius bagi tenaga-tenaga ahli manusia.

“Tinggal buat pola dan sistem kerjanya, maka tugas-tugas tenaga ahli bisa digantikan oleh AI,” ujarnya.

Orang mungkin tidak sadar. Tetapi otak-otak buatan itu sedikit demi sedikit telah mengambil pekerjaan manusia. Jika ini terus secara masif peran-peran manusia diambil AI tentu akan sampai masanya di mana tenaga kasar manusia sudah tidak digunakan lagi.

Semua akan dikerjakan oleh otak-otak buatan, baik dalam bentuk sistem atau yang sudah dibuatkan fisik robot. Lihat saja contoh lain, jika Anda rajin browsing melalui layanan sosial media Youtube anda akan diperlihatkan AI sudah mulai mengambil porsi kerja tukang bangunan, tambal ban, pembantu rumah tangga, pengoperasi pabrik, dan banyak sektor kerja lainnya.

Bahkan Pemerintah Kota Mataram pun sadar-tidak sadar telah memilih AI mengganti tugas-tugas manusia. Lahirnya berbagai aplikasi layanan pemerintah berbasis aplikasi android sebenarnya malih rupa dari AI untuk penerapan yang lebih kasat mata.

“Aplikasi-aplikasi android itu juga bekerja berdasarkan AI. Orang bisa mengaplod perizinan lalu datanya diferivikasi secara elektronik, apakah data yang diupload memenuhi syarat atau tidak, itu kan penerapan AI,” ulasnya.

 Lalu bagaimana menyikapi pesatnya tekologi ini, apakah ini ancaman? Apakah manusia harus panik?

Pria yang menjadi koordinator teknis Information Technology Education Center (ITEC) Mataram ini mengatakan tidak perlu panik. Bagaimanapun secerdas-cerdasnya AI yang membuat tetaplah manusia. Dengan kata lain manusia jauh punya potensi lebih dasyat dari sehebat apapun karya AI.

“Lahirnya AI memang bisa jadi ancaman, tetapi kalau kita mau belajar AI justru berkah bagi umat manusia,” ulasnya.

Caranya adalah kuasa AI. Jangan sampai AI yang menguasai manusia. Jika ini yang terjadi maka petaka teknologi bisa saja terjadi. Sebaliknya jika manusia bisa menguasai AI ini bisa jadi peluang kerja baru yang lebih bergengsi.

“Setiap orang bisa belajar secara otodidak atau juga bergabung bersama kami di ITEC,” sarannya.

Tetapi jika manusia sudah bisa menguasai AI, ada banyak hal yang bisa dibuat dan dikreasikan. Dan menjadi ladang baru kerja bagi generasi milenial saat ini. Ia mencontohkan  seperti pilot project yang sedang ia garap saat ini. Ia berencana membuat sebuah aplikasi berbasis AI yang mampu mensimulasikan wajah manusia secara presisi.

Sesuai dengan model rambut yang diinginkannya.

“Kebetulan kakak saya membuka barber shop, saya ingin membuatkannya sebuah aplikasi yang memungkinkan orang bisa memilih model rambut yang diinginkannya,” terangnya.

Kamera ponsel akan jadi indera dari aplikasi ini. Lalu menangkap wajah orang yang berencana potong rambut. Dengan bahasa pemrograman yang kompleks wajah orang itu bisa dicapture. Selanjutnya dengan sistem AI berbagai potensi rambut yang membuat tampilannya lebih keren bisa direkomendasikan.

“Jadi mana model rambut yang akan cocok dengan wajahnya akan direkomendasikan. Nanti dalam aplikasi ini kita akan masukan berbagai data soal bentuk wajah dan model rambut yang cocok,” tuturnya.

Fandi punya mimpi besar. Kelak aplikasi android berbasis AI nya bisa jadi aplikasi prioritas. Seperti Go Jek yang akhirnya dimanfaatkan oleh banyak perusahaan untuk menggenjot usahanya. Atau aplikasi jual beli online yang sudah menjadi kebutuhan bagi para enterpreneur saat ini.

“Yang seperti ini kan belum ada. Kalau berhasil kami buat tentu ini akan membantu banyak barber shop di Mataram, memudahkan mereka melayani pelanggannya,” ujarnya.

Sementara itu Lalu Algifari Kusuma, pemilik Fary’s Barber Shop siap mendukung riset Fandi. Pria yang juga kakak kandung Fandi ini yakin ini akan jadi terobosan penting bagi usahanya.

“Para pelanggan Fary’s tidak perlu menunggu, mereka hanya perlu mengatur jadwal dan jam berapa datang di sana. Tanpa harus mengantre lama,” ujar Fary.

Sistem AI yang dirancang Fandi diyakininya akan menambah performa layanan barber shop miliknya. Apalagi selama ini para kapsternya ditekankan untuk bekerja secara presisi seperti yang diinginkan para pelanggan.

“Dengan kemampuan presisi kerja para kapster, ini tentu mendukung rencana membuat aplikasi berbasis AI itu,” tambahnya.

Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Mataram Iwan Harsono mengatakan di era milineal ini teknologi memang sudah jadi keniscayaan. Tak terkecuali ke sektor ekonomi. Hadirnya berbagai terobosan teknologi yang memudahkan kerja manusia, memang telah memangkas sektor kerja konvensional.

“Tetapi membuka peluang kerja kreatif yang lain,” ujar Iwan.

Tenaga terampil milenial memang tidak perlu bekerja seperti generasi lama. Seperti memegang pahat dan palu untuk membuat patung. Tetapi mereka bisa duduk di depan komputer lalu merancang sebuah program yang mampu mengoprasikan pahat dan palu secara robotik.

“Tuntutan zaman tentu berbeda, selalu ada inovasi dan perubahan. Tetapi itu pada hakikatnya bukan halangan bagi siapa saja yang mau belajar,” tegasnya.

Ia mencontohkan lagi saat para generasi karapan sapi, digilas oleh generasi pengendali traktor. Saat itu banyak orang yang khawatir para pemilik sapi akan kehilangan mata pencaharian. Tetapi mereka terus survive dengan cara belajar teknologi dan cara mengoperasiakan traktor.

Alhasil manusia tetap bisa bertahan. Sekalipun teknologi berubah-ubah sepanjang zaman. “Intinya harus tetap mau belajar dan berubah sesuai tuntutan zaman,” tutupnya. (zad/r3)

Sumber : http://lombokpost.net/2018/04/30/jejak-otak-buatan-di-metropolitan/

Share This